Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literasi. Tampilkan semua postingan

Pertemuan yang Tak Ada di Silabus

 

Pertemuan yang Tak Ada di Silabus


Langit belum terlalu terang, waktu menunjukkan pukul 06.45. Dari gedung perpustakaan lantai tiga, tampak terlihat melalui jendala matahari mulai menampakkan sinarnya. Udara terasa sejuk di pagi hari. Pak Ahmad bersiap diri untuk mengajar pertama kali di tahun pelajaran ini. Ada rasa gugup yang tak biasa di hatinya. Meski ini bukan pertama kalinya mengajar, tapi entah kenapa, hari itu rasanya seperti hari pertama jadi guru. Bel pertama telah berbunyi tanda siswi dan guru harus masuk kelas sebelum doa dan tadarus bersama dimulai. Pak Ahmad bergegas untuk meninggalkan ruang perpustakaan menuju ruang kelas.

“Mbak Amah saya ngajar dulu nggih …” pamit beliau kepada mbak Amah, salah satu pustakawan di perpustakaan tersebut.

Nggih pak Ahmad” jawab mbak Amah.

Ngajar enjing nopo?” sambung mbak Amah.

Nggih mbak, alhamdulillah hari ini full ngajarnya” jawab pak Ahmad.

“Mas Tama dan mbak Wulan saya ngajar dulu nggih” pamitnya kepada mas Tama dan mbak Wulan. Keduanya merupakan pustakawan juga.

“Nggih pak Ahmad” jawab mereka berdua.

Ya … itu merupakan kebiasaan di perpustakaan bila salah satu pengelola hendak meninggalkan ruang agak lama selalu memberitahu atau pamit kepada yang lainnya. Selain sebagai guru, pak Ahmad diamanati untuk mengelola perpustakaan sebagai kepala perpustakaan. Dibantu dengan tiga pustakawan.

“Assalamu’alaikum” ucap pak Ahmad ketika meninggalkan ruang perpustakaan.

“Wa’alaikumussalam” jawab mereka.

Dari lantai tiga gedung selatan menuju lantai dua gedung utara adalah perjalanan yang ditempuh pak Ahmad untuk mengajar di kelas pagi ini. Belum ada jalan penghubung antara kedua gedung tersebut. Dengan langkah yang tenang pak Ahmad menuruni tangga menuju lantai satu. Sesekali bertegur sapa dan salam bila bertemu dengan siswi, guru, maupun karyawan. Berjabat tangan bila bertemu  guru dan karyawan putra. Memang demikian adab seorang muslim bila bertemu dengan saudaranya mengucapkan salam, seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya : “Barang siapa yang memulai salam (ketika bertemu dengan orang), maka ia lebih utama menurut Allah dan Rasul-Nya.”

Setelah melewati tangga, sampailah di lantai dasar dan berjalan menuju gedung utara serta menaiki tangga lagi menuju lantai dua. Menelusuri lorong di depan beberapa kelas, barulah sampai di depan kelas 4. Maksudnya bukan kelas 4 SD. Sekolah ini merupakan pendidikan enam tahun, meliputi jenjang tsanawiyah dan aliyah. Penyebutan kelas menggunakan nomor 1 sampai nomor 6, di kurikulum sekarang setara kelas VII sampai  kelas XII. Tatkala sudah berada tepat di depan kelas. Terdengar suara-suara kecil dari dalam, bercampur canda tawa yang ditahan. Saat pintu kelas terdorong pelan semua suara itu langsung mengecil.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap pak Ahmad ketika masuk ruang kelas dan menuju meja guru.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab serentak siswi-siswi di kelas tersebut.

“Mari kita akan do’a bersama dengan sikap sempurna” lanjut pak Ahmad ketika bel kedua kedua berbunyi tanda do’a bersama akan dimulai.

Sekitar lima belas menit berdoa dan tadarus bersama selesai. Selain didampingi guru yang mengajar jam pertama, setiap kelas juga ada pendamping dari IPM, semacam OSIS kalau di sekolah pada umumnya. Tidak lupa anggota IPM tersebut selalu mengingatkan para siswi untuk selalu membawa mushaf Qur’an dan mukena setiap hari setelah kegiatan doa dan tadarus. Pembiasaan tadarus pagi dan shalat berjamaah, dhuhur dan asar sudah menjadi habit di sekolah ini.

Mengawali pembelajaran kali ini, pak Ahmad membuka dengan membaca salam, tahmid, dan juga sholawat. Dilanjutkan memeriksa kehadiran siswi satu per satu dengan membaca nama siswi.

“Selamat pagi anak-anak semua?’ tanya pak Ahmad sambil memperhatikan seisi ruangan kelas.

“Pagi … abi ….” Jawab sebagian besar siswi.

“Gimana kabarnya hari ini?” tanya pak Ahmad Kembali

“Alhamdulillah baik” jawab mereka

“Alhamdulillah kalua begitu” timpal pak Ahmad.

“Lho memang kalian sudah tahu, siapa saya” tanya pak Ahmad agak sedikit heran sambil memperhatikan mereka satu persatu. Apalagi dengan panggilan abi. Perlu diketahui bahwasannya pak Ahmad hanya mengajar di tingkat Aliyah tidak di tingkat tsanawiyah. Wajar bila masih penasaran bila sebagian besar mereka sudah tahu. Terlihat di bagian tengah ada siswi berbisik kepada teman dekatnya, mungkin bertanya siapa guru ini?

“Tahu abi … abi kan pernah juga jadi pamong asrama” jawab salah satu dari mereka.

“Iya apa?” tanya pak Ahmad dengan sedikit bercanda keliatan tidak percaya. Hanya untuk menguji saja benar tidak diantara mereka tahu kalau beliau pernah jadi pamong asrama.

“Betul bi, wonk saya pernah jadi anak asrama abi waktu kelas tiga akhir” jawab salah satu dari mereka, diketahui bernama Zaahiyah dengan nada yang meyakinkan.

“Malah pernah ditanyai abi ketika hendak keluar asrama mau jajan” lanjut Zaahiyah.

“Oo iya … ya, maaf kalau abi lupa” tukas pak Ahmad dengan nada bercanda. Memang angkatan siswi ini ada yang pernah di asrama Aminah tatkala di masa peralihan dari pandemi dan normal, sebelum menempati asrama mereka sebenarnya. Sekolah ini adalah sekolah berasrama dan siswanya putri semua. Sebagian besar berasal dari seluruh daerah di Indonesia, walaupun yang mendominasi adalah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur.

“Alhamdulillah senang bertemu kalian dan insya Allah bisa mendampingi sampai kelas 6. Aamiin. Itupun kalau berkenan lho” kata pak Ahmad dengan nada bercanda

“Aamiin ...” sahut mereka.

“Pertemuan pertama ini abi gunakan untuk perkenalan dengan kalian semua” lanjut pak Ahmad.

“Asyiiik ga pelajaran” jawab mereka dengan rasa suka cita.

Menggunakan powerpoint, pak Ahmad memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang nama, asal daerah, pendidikan, dan sekilas tentang keluarga. Dengan gaya sedikit agak lucu dalam penyampaiannya, sehingga ga membosankan. Sesekali diselingin dengan pertanyaan dari siswi.

“Abi tanya!” potong salah satu siswi yang duduk di sisi kanan tengah, saat pak Ahmad masih menjelaskan tentang pendidikan.

“Ya silakan” jawab pak Ahmad

“Abi kan dari teknik, kok bisa jadi guru?” tanyanya sedikit agak heran.

“Untuk menjawab pertanyaan ini, abi ga langsung jawab ya” jawab pak Ahmad.

Pak Ahmad mempersilakan untuk membaca cerita “Aku Tertambat pada Profesi ini” yang ada di buku antologi “Takdir”. Buku ini tersedia di perpustakaan. Tak terasa waktu hampir selesai untuk pertemuan pertama ini. Lebih seru lagi ketika beberapa siswi bertanya tentang keluarga pak Ahmad. Ada yang sedikit tidak percaya bila putra-putrinya berjumlah sembilan. Tidak hanya memperkenalkan diri, pak Ahmad juga menanya nama dan alamat/asal mereka dan berusaha untuk menghafalkan nama-nama siswi secepatnya. Siswi merasa lebih senang kalau dipanggil namanya.

Dengan perkenalan ini diharapkan untuk bisa saling memahami, menghormati, bekerja bersama dalam banyak hal bagi kemaslahatan bersama, mencari ridlo Ilahi serta meraih kesuksesan pendidikan bagi siswi semua. Itu semua agar termasuk hamba yang bertakwa, seperti tertulis di Al Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, yang artinya; Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.

Dengan mengucapkan hamdalah dan salam pak Ahmad mengakhiri pertemuan awal ini. Kesan pertama yang mereka tinggalkan di benak beliau baik dan menyenangkan sekali. Semoga suasana seperti ini menular pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Ada satu pertanyaa yang dilontarkan pak Ahmad sebelum berakhir pertemuan itu

“Siapakah yang suka fisika?” tanya pak Ahmad

“Angkat tangan!’ lanjutnya

“Saya … saya … saya!” jawab sebagian mereka sambil angkat tangan. Pak Ahmad menghitugnya, alhamdulillah ada 6 – 7 siswi yang suka. Itu sudah cukup.

Ketika membuka pintu mau keluar, ada panggilan di antara mereka sambal berlari mendekati dan berkata :

“Abi … boleh minta tanda tangan di buku ini, biar tambah semangat” katanya

“Tanda tangan abi? … Ini pelajaran fisika, bukan buku kenangan” canda pak Ahmad.

Gapapa … abi kan jadi kenangan fisika semester ini” jawabnya sambil tertawa kecil menuju ke bangkunya. Pak Ahmad hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum. Pak Ahmad keluar kelas sambil berkata dalam hati: pertemuan ini tak akan aku temui di silabus manapun ….


Share:

Langkah Kecil di Lorong Kenangan

Langkah Kecil di Lorong Kenangan
(Coretan seorang guru untuk siswi yang akan terbang tinggi)

aku tak tahu
kenapa jemari ini ingin menulis
akupun tak pandai memilih kata
tak tahu kelebihan
tak hafal prestasi
kadang lupa pula akan nama
bahkan tak selalu hadir di tiap tawa
dan tangis yang kalian lewati

entah kenapa,
hati ini terasa sesak
jika tak menuangkannya.
ada yang tumbuh diam-diam
di setiap langkah kaki kalian yang berlari di lorong itu

tiga tahun berlalu
aku menyaksikan kalian,
bukan sebagai siswi
tapi sebagai anak-anak yang kutitipkan pada doa
tak selalu kupuji,
tak selalu kupahami,
tapi selalu kurindui ketika lorong itu terasa sepi.

aku menulis
bukan karena kalian hebat
meski memang iya.
bukan karena kalian sempurna
meski di mataku kadang seperti itu
aku menulis karena kalian pernah berjalan bersamaku,
di lorong-lorong kecil itu

yang akan hanya tinggal kenangan.

dan kelak
saat kalian terbang tinggi,
membawa mimpi mimpi
tapi belum sempat kalian ceritakan padaku,
biarlah catatan ini jadi jejak kecil,
yang kalian temukan jika suatu hari kalian ingin pulang,
meski hanya lewat rangkaian kata-kata ini.


the bigcity, may 2025


Share:

Pertengahan Tahun 2003

 

Pertengahan Tahun 2003

Pagi yang sangat cerah sekali, matahari menyinarkan teriknya tak begitu panas. Angin berhembus sepoi-sepoi menambah suasana begitu indahnya  hari itu. Dengan wajah yang berseri-seri pak Ahmad melangkahkan kaki menuju sekolah tempat belaiu mengajar untuk presensi terakhir dilanjutkan pergi ke kantor dinas untuk mengambil surat kepindahan tempat mengajarnya. Ya … pak Ahmad mengajukan pindah tugas ke tempat di mana istri dan anak-anaknya tinggal dengan alasan ingin dekat dengan keluarga. Beliau sudah mengajar hampir 10 tahun di tempat sekarang mengajar.

Sekitar pukul duabelas siang, saat matahari sudah naik pada puncak  ketinggiannya, pak Ahmad sudah kembali ke sekolah, setelah mengurus dan mengampil surat pindah tugas.

“Assalamu’alaikum …” ucap pak Ahmad ketika memasuki ruang kantor guru

“Wa’alaikumussalam …” jawab bpk/ibu guru di ruang kantor secara serentak.

“Gimana pak … urusannya? Lancarkan?” tanya bu Ana kepada pak Ahmad, beliau termasuk salah satu guru yang akrab dengan semua warga sekolah. Beliau mengajar matematika.

“Alhamdulillah sudah selesai urusaanya ibu … hal ini semua karena berkat dukungan dan doa bapak/ibu. Jazakumullahu khairan untuk semuanya.” jawab pak Ahmad dengan agak terbata-bata sambal berliang air matanya. Entah apa yang ada benak pikiran pak Ahmad, senang karena insya Allah bisa dekat bersama keluarga atau sedih harus meninggalkan teman-teman guru dan anak-anak didiknya. Pak Ahmad langsung menuju tempat duduk kemudian minum teh manis di gelas yang tersedia di mejanya. Sesekali pak Ahmad menghela napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan-lahan mungkin untuk menghilangkan perasaannya yang sedang berkecamuk di batinnya.

Selesai minum dan membereskan apa yang ada di meja, pak Ahmad minta pamit untuk mendahului karena ada beberapa hal yang harus dipersiapkan.

“Mohon ijin saya mendahului bpk/ibu semua … ini saya hendak menemui ibu kepala sekolah dulu” pinta pak Ahmad kepada bapak/ibu guru yang ada di ruang.

“Iya pak … berarti hari ini terakhir kita bertemu pak” celetuk pak Anto dari pojok ruangan. Pak Anto adalah guru komputer di sekolah ini dan duduknya beliau memang di salah sudut ruangan sebelah kanan belakang.

“Insya Allah tidak pak Anto … kemaren bu kepala bilang nanti ada pisah sambut guru lama dan baru” jawab pak Ahmad.

“Alhamdulillah kalau begitu. Berarti kita masih ketemu lagi yang terakhir” tambah pak Anto ke pak Ahmad.

“Tapi … berarti besok ada guru baru yang akan dikenalkan kepada kita?” tambah pak Anto

“Insya Allah pak … ibu kepala akan memperkenalkannya langsung” jawab pak Ahmad

“Woooo … pak Anto kudet info. Makanya sering-sering ke kantor, jangan hanya di lab. komputer melulu. Giliran di kantor seringnya mojok” celetuk salah seorang guru sambal tertawa.

Lah memang mulangnya di lab. je” jawab pak Anto dengan bahasa jawanya yang medok. Itulah suasana di ruang kantor guru, penuh keakraban, canda tawa, saling support, pokoknya suasana menyenangkang dan gayeng. Mungkin itulah salah satu suasana yang akan dirindukan oleh pak Ahmad ketika sudah mengajar di tempat lain.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh” ucap pak Ahmad ketika hendak meninggalkan ruang guru sambal berjabat tangan dengan guru-guru putra. Terlihat mata pak Ahmad berkaca-kaca, seakan-akan merasa berat sekali untuk meninggalkan tempat ini. Setelah itu pak Ahmad menuju ruangan kepala sekolah.

Menjadi seorang guru bagi pak Ahmad tidaklah terpikirkan sama sekali untuk menekuni profesi ini, apalagi menjadikan salah satu cita-cita. Qodarullah ternyata profesi inilah pak Ahmad sangat senang sekali dan menikmatinya, apalagi ketika ibunya tahu kalau beliau menjadi seorang guru. Merasa senang dan bangga, bisa meneruskan profesi ibunya. Ibu pak Ahmad seorang guru sekolah dasar, sebuah desa di salah satu kabupaten Jawa Tengah dan terakhir sebagai penilik SD di daerah tersebut.

Tidak terlalu lama pak Ahmad bertemu dengan ibu kepala sekolah di ruangan beliau. Intinya pak Ahmad minta pamit dari sekolah ini karena akan pindah ke sekolah barunya dan mohon maaf bila ada kesalahan serta kekhilafan selama bergabung di sekolah ini. Ibu kepala juga menyampaikan permohonan maaf dan mendoakan semoga di tempat barunya tambah sukses serta cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Tidak lupa berpesan juga kepada pak Ahmad untuk tetap rendah diri dan rendah hati serta selalu berinovasi dan mengembangkan potensi diri untuk perkembangan dan kemajuan pendidikan di Indonesia. 

Alhamdulillah kegiatan hari ini sudah terlaksana dengan baik, tak lupa pak Ahmad selalu mengucapkan kalimat tahmid sebagai tanda rasa syukur atas nikmat yang diterimanya hari ini, semoga tidak termasuk orang-orang yang kufur nikmat. Beliau selalu ingat akan isi surat Ibrahim ayat 7, yang artinya : (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.". Tersirat dari wajah pak Ahmad begitu senang dan gembiranya hari ini, terasa plong begitu. Entah apa yang dipikirkannya, dengan senyum-senyum sendiri beliau meninggalkan sekolah menuju rumah kontrakannya.

Suasana gedung aula sekolah sudah terlihat ramai, siswi-siswi mulai masuk gedung tersebut dan menempati kursi yang tersedia. Beberapa bapak/ibu guru dan karyawan sudah pada datang. Tepat pukul 07.30 acara pisah sambut guru lama dan guru baru dimulai. Pembukaan acara diawali dengan pembacaan basmallah yang dipandu oleh pembaca acara. Selanjutnya pembacaan kalam Illahi, sambutan kepala sekolah, kesan dan pesan guru lama, perkenalan guru baru, selingan dan acara ditutup dengan do’a.

Pak Ahmad menyampaikan kesan dan pesan selama beliau mengajar di sekolah ini. Banyak hal yang disampaikan baik suka dan duka. Keheningan seakan menyihir hadirin ketika beliau berdiri di podium. Kesedihan terpancar dari wajah para hadirin. Pak Ahmad juga larut dalam suasana tersebut, tak tahan air mata beliau jatuh membasahi pipi. Terlihat juga empat  siswi duduk di deretan tengah sedang menangis, mereka adalah Ulfi, Rita, Karin, dan Nur. Entah apa yang terjadi pada mereka. Bagi pak Ahmad mereka termasuk siswi-siswi yang baik, pintar, supel, dan komunikatif. Mereka sangat membantu dalam hal komunikasi dengan siswi yang lain, terkadang pak Ahmad menemui kendala kenapa siswi-siswi seakan tidak peduli ketika pak Ahmad menyampaikan materi di kelas. Dari merekalah masukan disampaikan sehingga strategi pembelajaran yang diterapkan di kelas bisa lebih bervariatif dan siswi-siswi yang jadi lebih senang. Terkadang mereka sering berdiskusi dengan pak Ahmad mengenai beberapa hal ataupun bila mereka ada kesulitan dalam pelajaran mereka bertanya kepada beliau dan selalu dibantu dengan baik. Itulah kedekatan mereka dengan pak Ahmad.

“Abi … abi…bangun” terdengar samar-samar oleh pak Ahmad ada memanggilnya

“Oh … ya … gimana sayang” jawab pak Ahmad ketika yang manggil ternyata Dzaki, anak terkecilnya.

Udah adzan … sholat di masjid” sambung Dzaki, seakan mengingatkan untuk sholat asar di masjid karena sudah terdengar suara adzan.

“Iya … insya Allah” jawab pak Ahmad.

“Astaghfirullah …” ucap pak ahmad ketika baru sadar apa yang dialaminya tadi ternyata dalam mimpi.

Kemudian pak Ahmad menggendong Dzaki untuk mengambil air wudhu dan persiapan sholat ke masjid. Masih terdengar sayup-sayup suara siswi-siswi ketika menyanyikan lagu hymne guru dalam acara selingan, Terpujilah … Wahai engkau ibu bapak guru … Namamu akan selalu hidup … Dalam sanubariku …Mengenang beberapa tahun lalu yang pernah Pak Ahmad alami. Alhamdulillah sekarang masih bisa berkumpul bersama keluarga, itu merupakan kenikmatan yang patut disyukuri. Berharap agar selalu berbuat amal shalih untuk masa-masa yang akan datang dan memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk kesiapan hari esok. Seperti peringatakan untuk kita semua tercantum dalam Surat Al Hasyr ayat 18 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

 

 

 

.

Share:

Aku dan Perpustakaan

 Aku dan Perpustakaan

 

Siang itu ketika berada di kantor sebuah pesan wa masuk ke gawai. Ku lihat ternyata pesan dari Direktur sekolah tempat aku mengajar. Selain sebagai seorang guru aku diberi amanah sebagai staf humas.

“Assalamu’alaikum” tulis pesan tersebut

‘Wa’alaikumussalam’ tulisku

“Bapak sedang sibuk?” tanya beliau

“Tidak ibu” jawabku

“Alhamdulillah kalau begitu, bapak bisa ke ruang direksi?” lanjut beliau

“Insya Allah ibu” jawabku singkat

“Baik saya tunggu” tulis beliau

Nggih” jawabku

Selesai merampungkan pekerjaan aku segera menuju ke ruang direksi. Selain direktur, yang menempati ruang tersebut ada wakil direktur bidang kurikulum, wakil direktur bidang administrasi, wakil direktur bidang kesiswaan, dan wakil direktur bidang kepesantrenan. Sekolah ini merupakan sebuah madrasah tingkat tsanawiyah dan aliyah. Madrasah ini dipimpin seorang direktur dan dibantu empat wakil direktur. Tidak sampai 5 menit aku sudah berada di depan pintu ruang direksi.

            “Assalamu’alaikum” ucapku sambil mengetuk pintu

            “Wa’alaikumussalam” jawab serentak orang yang berada di ruang tersebut

            “Pak Koko ya ?”sahut bu direktur, tersengar dari suaranya

            “Betul ibu” sahutku

            “Masuk pak dan silahkan duduk” pinta beliau

            Nggih ” jawabku sambil masuk dan duduk di sofa

            “Sebentar pak ya” sahut beliau. Kemungkinan beliau menyelesaiakan pekerjaannya dulu, pikirku.

            “Gimana kabarnya pak Koko” tanya salah seorang wadir

            “Alhamdulillah baik ibu” jawabku

            “Ibu gimana kabarnya” tanya balik saya ke ibu tersebut

            “Alhamdulillah juga pak” jawab beliau.

Tak lama kemudian ibu direktur ditemani wakil direktur bidang kurikulum menemui di ruang tamu dan duduk di kursi yang tersedia. Beliau mempersilahkan kepada ku minuman yang berada di atas meja sebelum memulai pembicaraan diantara kami. Disampaikan bahwa hasil rapat direksi, memintaku untuk menempati pos baru sebagai kepala perpustakaan dan media pembelajaran di tahun pelajaran yang akan datang. Tanpa memotong pembicaraan beliau aku menyimak penjelasan beberapa pertimbangan kenapa aku ditempatkan di pos tersebut dan penjelasan mengenai tuga-tugas di perpustakaan.

“Maaf ibu, mungkin lebih baik diamanahkan kepada orang yang lebih kompeten” saranku setelah selesai penjelasan bu direktur. Mengingat aku seorang guru fisika yang jauh sekali terkait dengan seluk beluk perpustakaan.

“Insya Allah pak, kami yakin panjenengan bisa mengemban amanah ini” jawab bu direktur.

“Bismillah pak, kami pasti support kok” tambahnya

“Mohon dukungan dan doa semoga bisa menjalankannya” mintaku dengan berat hati. Positive thinking saja semoga ada kebaikan di tugas baru ini. Teringat akan penggalan ayat 216 surat Al Baqoroh, yang artinya :

“ … Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Ayat di atas menjelaskan bila ini merupakan suatu ketetapan, insya Allah akan didapatkan banyak pelajaran dan selalu akan ada hikmah di balik apa yang telah Allah takdirkan kepada hambanya. Akhirnya aku minta pamit setelah selesai pertemuan tersebut. Dengan mengucapkan salam aku meninggalkan ruangan direksi.

Awal tahun pelajaran baru aku menempati ruang sebagai kepala perpustakaan. Perpustakaan kami hanya memiliki seorang pustakawan dan seorang administrasi, jauh dari ideal sebuah perpustakaan yang memiliki anggota seribu lebih.  Di awal mengelola perpustakaan masih bingung apa yang akan dilakukan dan banyak belajar dari pustawakan. Ada kejadian yang lucu yang aku alami. Selama dua minggu awal, setelah jam kerja aku tidak langsung pulang, tapi menata buku-buku di rak agar kelihatan rapi. Setelah selesai aku iseng bertanya ke pustakaan tentang kode adan nomor yang ada di buku. Ternyata apa yang aku tata tidak sesuai urutan kode dan nomornya. Akhirnya aku ulang lagi, kadang dibantu teman yang lain. Seiring berjalannya waktu alhamdulillah merasa enjoy bekerja di perpustakaan. Tidak lupa selalu belajar dan belajar dengan mengikuti workshop atau seminar kepustakaan.

Beberapa bulan kemudian ada disposisi dari wakil direktur bidang kurikulum, isinya undangan mengikuti lomba perpustakaan dan akreditasi perpustakaan. Sehari kemudian mendapat aiphone dari beliau.

“Assalamu’alaikum bapak” ucap beliau mengawali di percakapan itu

“Wa’alaikumussalam” jawabku

“Sudah dapat disposisi saya?” tanyanya

“Alhamdulillah sudah” ucapku

“Bagaimana menurut bapak” lanjut beliau

“Maaf bu, kalau mengikuti keduanya tidak mungkin” jawabku

“Mengingat waktu dan persiapannya” lanjutku

“Kalau menurut bapak pilih yang mana? Tanyanya

“Ikut akdreditasi perpustakaan saja ibu” jawabku

Akhirnya diputuskan untuk mengikuti akreditasi perpustakaan setelah kami berdiskusi dan sharing kegiatan apa yang akan diikuti.

Persiapan kami lakukan dengan langkah awal membentuk kepanitian akreditasi perpustakaan sekolah, melibatkan beberapa unit lainnya. Tidak kalah pentingnya adalah meminta tambahan 2 orang pustakawan untuk melengkapi pustakawan yang sudah ada sesuai kebutuhan minimal perpustakaan sekolah. Alhamdulillah dipenuhi. Pendampingan akreditasi perpustakaan oleh BPAD Yogyakarta sangat membantu kami dalam mempersiapkan kelengkapan borang akreditasi. Dukungan jajaran direksi menambah kepercayaan kami dalam mengikuti kegiatan ini. Beberapa hal yang dilakukan antara lain : study banding ke perpustakaan yang telah terakreditasi, melengkapi sarana dan prasarana, kelengkapan administrasi perpustakaan, pengadaan buku, dan sebagianya. Semua kami lakukan dengan kekompakan dan saling kerjasama.

Visitasi akreditasi perpustakaan dilakukan oleh 2 asesor dari Perpusnas. Setelah pengecekan semua borang akreditasi dan peninjauan langsung di perpuskaan, kami merasa puas sudah berusaha maksimal untuk mengikuti akreditasi perpustakaan sekolah. Semoga mendapatkan nilai memuaskan.

Informasi hasil akreditasi kami terima dari BPAD dengan nilai A. Puji syukur kami panjatkan atas pencapaian ini, dengan harapan bisa lebih meningkatkan lagi di hari-hari berikutnya. Sebagai perwakilan sekolah aku diutus oleh direktur untuk menerima langsung sertifikat akreditasi sekolah di kantor BPAD. Terakreditasinya perpustakaan kami menandakan pengelolaan perpustakaan sesuai standar yang ada

Meningkatkan kualitasi dari dalam mengelola perpustakaan aku lakukan dengan salah satunya mengikuti “Diklat Kepala Perpustakaan” yang diselenggarakan oleh BPAD Yogyakarta, IPI Yogyakarta bekerjasama dengan Perpusnas. Banyak ilmu dan pengalaman selama mengikuti diklat, sebagai bekal untuk mengelola perpustakaan. Alhamdulillah dalam diklat ini mendapat predikat peringkat ke-2.

Pada tahun berikutnya kami mengikuti lomba perpustakaan sekolah tingkat kota, Alhamdulillah mendapat predikat peringkat satu untuk kategori perpustakaan sekolah swasta. Demikian juga dengan pustakawan kami mendapat peringkat 3 pustakawan berprestasi yang diselenggarakan oleh Kanwil Kemenag Yogyakarta. Semua itu menambah semangat kami dalam mengelola perpustakaan.

Menumbuhkan budaya literasi di sekolah, sebagai pengelola perpustakaan beberapa kegiatan kami lakukan, antara lain :

Tayang Buku Baru, kegiatan ini adalah menayangkan buku baru setiap dua minggu sekali. Buku ini sebagian merupakan usulan dari pemustaka. Sebagai informasi buku baru dibuat pamflet yang ditempel di papan pengumuman di depan setiap kelas.

Pojok Baca, kegiatan ini bekerjasama dengan OSIS, yaitu melayani pinjam dan baca buku di lobby sekolah. Hal ini dilakukan mengingat lokasi perpustakaan yang berada di lantai 3.

Gebyar Perpustakaan, merupakan kegiatan lomba yang melibatkan seluruh stakeholder sekolah. Lomba perpustkaan kelas, lomba story telling, lomba menulis, lomba poster dan lainnya.

Sekelumit tentang aku dan perpustakaan, tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dulu seakan jauh, alhamdulillah sekarang makin dekat dan sangat menikmatinya. Banyak pelajaran antara aku dan perpustakaan, apa yang tidak disukai mungkin itu baik baginya. Niat yang kuat dan selalu belajar menjadi modal untuk meraih kesuksesan.

Share:

Aku Tertambat Pada Profesi Ini

 

Aku Tertambat Pada Profesi Ini 

Aku dilahirkan di sebuah desa di kota Demak dan pendidikan sekolah dasar aku tempuh di sana, kemudian melanjutkan jenjang pendidikan SMP dan SMA di kota Kudus. Mata pencaharian penduduk desa tersebut hampir setengahnya sebagai petani, maupun penggarap sawah. Orang tuaku sebagai pegawai negeri sipil, bapak pegawai pemda, sedangkan ibu berprofesi sebagai guru. Selain sebagai PNS bapak juga seorang petani, walaupun sawah digarap orang lain dengan pembagian hasil panen yang telah disepakati. Waktu masa panen aku sangat senang bisa ikut membantu memasukan gabah ke dalam karung untuk ditimbang. Apalagi ketika menjemur gabah, hal yang sangat menegangkan adalah waktu gerimis, aku berkejaran dengan turunya air hujan. Peristiwa inilah membuat aku bercita-cita ingin kuliah di jurusan pertanian.

Selepas tamat SMA aku kuliah di jurusan Teknik Mesin, FNT-UGM. Cita-cita kuliah di jurusan pertanian aku urungkan, mengingat jurusan yang banyak dibutuhkan saat itu adalah teknik mesin, teknik elektro, dan teknik sipil (katanya sih?). Setelah lulus  mendapat tawaran dari fakultas untuk menjadi laboran di PAU-Ilmu Teknik UGM. Tawaran tersebut langsung aku terima karena tanpa tes ... he ... he dan ditempatkan di Laboratorium Perpindahan Panas dan Massa. Setahun kemudian aku menikah. Pada waktu itu juga, aku melanjutkan kuliah S1 Teknik Mesin di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Setelah bekerja lima tahun sebagai laboran, aku resign dari UGM karena beberapa pertimbangan.

Lulus sarjana, aku berprofesi sebagai pemberi les privat fisika SMP/SMA dan tentor bimbingan belajar. Inilah awal pertama terjun di dunia pendidikan non formal dan sangat menikmati pekerjaan ini. Ada kepuasan tersendiri bisa membantu siswa mendapatkan nilai baik untuk mapel fisika atau diterima di perguruan tinggi negeri, di samping hubungan kekeluargaan yang terjalin baik antara aku dan orangtua siswa. Rasa syukur selalu dipanjatkan kepada Allah atas pekerjaan ini. Tidak jarang orangtua memberi rezeki lebih kepadaku sebagai pemberi jasa ini.  Sampai sekarang profesi ini masih aku jalani.

Tahun 2002 aku ditawari seorang teman untuk mengajar di sebuah madrasah swasta. Kurang lebih seminggu kemudian saku  baru memasukkan surat lamaran menjadi guru fisika di madrasah tersebut, setelah berembuk dengan istri. Diterima oleh Pembantu Direktur bidang kurikulum, aku mendapat penjelasan tentang madrasah ini dan masalah yang lain. Siswa yang bersekolah di sini semuanya putri, baik tingkat tsanawiyah maupun aliyah dan berasrama. Diinformasikan juga kalau yang melamar ada tiga orang, semua tidak berlatar belakang kependidikan. aku dari jurusan teknik mesin, yang lain teknik geologi dan pertanian. Beberapa hari kemudian mendapat informasi hasil pengumuman dari teman, aku diterima sebagai guru di madrasah tersebut. Alhamdulillah, kata yang terucap atas nikmat ini dan tak terasa mata ini berlinang-linang. Tidak menyangka bisa diterima sebagai guru, mengingat pendidikan dan tidak mempunyai akta mengajar. Jazakumullahu khairan aku sampaikan juga kepada mbak Nuk, temanku atas kebaikannya selama ini. Mengetahui kabar ini, istri merasa senang dan bersyukur kepada Allah serta mendoakanku semoga dapat menjadi guru yang baik. Melalui percakapan gawai, tidak lupa mengabarkan kepada ibu kalau aku diterima menjadi guru. Ibu merasa senang sekali mendengarnya.

Tahun pelajaran 2002/2003 aku resmi menjadi guru tidak tetap di madrasah ini. Aku mengajar mata pelajaran fisika  kelas III tingkat tsanawiyah dengan jumlah jam mengajar 16 JP. Dalam hal mengajar, suka dan dukanya aku terima dengan senang hati dan dinikmati saja. Pengalaman sebagai tentor, ternyata sedikit banyak membantu mengajar di kelas, sering dulu aku ikut mengadakan try out di beberapa sekolah. Aku tetap membangun komunikasi kepada anak-anak, dengan selalu menyapa dan berusaha menghafal namanya. Semangat belajar dan belajar untuk menjadi guru yang baik selalu terpatri di hati ini. Sedangkan di kalangan guru, sangat welcome dengan keberadaanku sebagai guru baru. Lambat laun anak-anak bisa menerima kehadiranku, bahkan di akhir semester dua pengurus OSIS menerbitkan majalah, salah satu artikel membahas guru fisika baru. Dari uraian tulisannya, alhamdulillah aku bisa diterima di kalangan mereka.

Tahun pelajaran 2005/2006 aku mengajar tingkat aliyah kelas 1, tidak ada kendala berarti dalam pengajaran. Perlu penyesuaian sebentar mengingat beda karakter antara siswa tingkat tsanawiyah dan aliyah. Tahun 2008 mengikuti Program Sertifikasi Guru Dalam  Jabatan dengan mengumpulkan dokumen portofolio. Senang sekali ada program ini, tidak perlu lagi mencari akta pengajar karena bila lulus secara formal sudah diakui sebagai guru profesional. Tetapi untuk melengkapinya aku kesulitan dalam mendapatkan berkas-berkas yang diperlukan. Menyadari hal tersebut hanya pasrah saja, yang penting selesai menyusunnya. Alhamdulillah bisa menyerahkan dokumen tersebut ke Kantor Kemenag Kota tepat waktunya. Ketika pengumuman keluar, hasil penilaian dokumen portofolio mendapat nilai sekitar 400, sedangkan batas minimal kelulusan adalah 850. Aku siap mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) sebagai tindak lanjut hasil penilaian portofolio yang di bawah nilai standar.

Beberapa bulan kemudian pelaksanaan PLPG dimulai selama kurang lebih seminggu. Kegiatan tiap hari sangat padat dari pagi sampai malam, kecuali istirahat dan salat. Tidak ada waktu untuk pulang ke rumah. Aku benar-benar fokus dan sungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan PLPG, bahkan tidak pernah ijin maupun terlambat. Aku harus memperoleh nilai baik untuk lulus dari program ini. Penilaian akhir merupakan gabungan nilai portofolio dan PLPG, dengan persentase 20 dan 80. Nilai PLPG merupakan gabungan nilai ujian tulis, nilai ujian praktik pembelajaran, nilai partisipasi dalam teori dan praktik pembelajaran, dan penilaian sejawat. Peserta dinyatakan lulus bila nilai akhir lebih besar atau sama dengan 70.  Doa selalu dipanjatkan kepada Allah setiap selesai salat wajib maupun salat tahajud, memohon agar diberikan kemudahan dan kelancaran. Teringat akan firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 45, artinya : “Dan minta tolonglah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya itu sulit dilakukan kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. Dukungan dari keluarga sangat membantu sekali, tidak jarang setiap sore istri menengok sambil membawa berkas yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Terkadang memandu anak di rumah melalui gawai untuk mencari file di komputer yang dibutuhkan dan mencetaknya. Tatkala pelaksanaan ujian praktik pembelajaran, aku  mendapat apresiasi baik dari penguji. Hal ini menjadikan aku optimis bisa mendapat hasil PLPG yang maksimal, karena  ujian praktik merupakan penyumbang nilai paling besar. Alhamdulillah ujian tulis dan penilaian teman sejawat aku lewati dengan lancar. Besar harapan aku bisa lulus.

Pada hari pengumuman hasil PLPG, aku pergi ke warnet untuk melihat hasilnya karena diumumkan secara online. Aku ketik nomor peserta dengan hati berdebar. Alhamdulillah, itulah kata pertama yang terucap setelah tombol enter dipencet dan muncul kata lulus. Seakan tidak percaya kalau aku dinyatakan lulus, bahkan sampai beberapa kali melihatnya. Tiada hentinya kata hamdalah selalu aku ucapakan berulang-ulang sampai pulang ke rumah. Sebagai bentuk syukur atas kenikmatan yang diberikan Allah dan aku merasa senang sekali. Keesokan hari di madrasah ramai kabar hasil pengumuman PLPG, para guru saling memberi ucapan selamat kepada yang lulus dan memberi semangat bagi yang belum lulus. Bulan Februari 2009 penyerahan sertifikat pendidikan dilaksanakan serentak kepada seluruh peserta PLPG angkatan ini. Tiada kata yang bisa diungkapkan, aku bisa dinyatakan sebagai guru profesional bidang studi fisika

Berprofesi sebagai guru tidak pernah terbayang dalam pikiran. Mengalir begitu saja proses ini. Tapi ternyata saya sangat menikmatinya. Profesi guru di kalangan keluarga besar tidaklah asing, mengingat ibu, pakde, bude, dan bulik adalah seorang guru. Salah satu puncak kebahagiaan, aku rasakan ketika diberi penghargaan oleh madrasah sebagai salah satu guru berkinerja baik ditambah pada tahun 2019 bisa membantu siswa memperoleh nilai sempurna UN mapel fisika, 100. Semua ini merupakan ketetapan dari Allah yang harus aku terima dengan baik dan selalu menjaganya, karena ini tambatan profesi yang terakhir. Insya Allah.


Share:

Pengalaman Tak Akan Terlupakan

 

Pengalaman Yang Tak Akan Terlupakan

Siang itu pak Ahmad sedang mengajar di kelas, tiba-tiba bergetar gawainya tanda sebuah sms masuk. Diambilnya gawai dari meja, dilihatnya ternyata pesan dari istrinya dan diletakkan kembali gawainya di atas meja tanpa melihat isi pesannya, kemudian melanjutkan pembelajarannya lagi. Sepuluh menit sebelum waktunya, pak Ahmad sudah mengakhiri pembelajaran di hari itu. Dipersilahkannya anak-anak meninggalkan kelas untuk ishoma, sedangkan beliau masih berada di kelas.

Dilihatnya pesan dalam gawai tersebut. “Assalamu’alaikum bi, umi kok terasa mules-mules ya” isi pesan istrinya. Pak Ahmad baru ingat bila istrinya sudah mengandung sembilan bulan dan perkiraan hpl adalah minggu ini. Dibalasnya pesan tersebut.

“Wa’alaikumussalam, gimana mi ?” tulis pak Ahmad

“Umi kok mules-mules, tapi kadang mules kadang tidak” jawab istrinya

“Apa abi antar umi ke klinik sekarang?” tanya beliau

“Nanti saja, kalau mulesnya sudah sering, abi ngajar saja dulu” jawab istrinya.

“Alhamdulillah abi sudah selesai ngajarnya, insya Allah sebentar lagi pulang. Jangan lupa selalu zikir dan banyak istighfar, semoga Allah memberi kelancaran dalam persalinan nanti” saran dan doa pak Ahmad kepada istrinya.

“Insya Allah, syukron wa jazakallahu khairan” jawab istrinya

Pak Ahmad segera meninggalkan kelas dan bergegas untuk pulang ke rumah. Tidak sampai sepuluh menit beliau sudah sampai di rumah, karena jarak rumah dan madrasah tidak jauh. Pak Ahmad beserta keluarga tinggal di asrama madrasah. Beliau guru di sebuah madrasah swasta di Yogyakarta, di mana madrasah tersebut merupakan sekolah berasrama (boarding school).

“Assalamu’alaikum” ucap beliau ketika memasuki rumah.

“Wa’alaikumussalam” jawab istrinya.

“Gimana mi, mau diantar sekarang?”tanya beliau

“Nanti saja, abi salat dulu saja” jawab istrinya

“Baik ... abi salat dulu dan setelah itu abi siapkan perlengkapan yang akan dibawa” sahut pak Ahmad.

Tidak lama kemudian istri pak Ahmad minta untuk segera diantar ke klinik bersalin, karena merasa mulesnya sudah agak sering. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya dan meminta anak yang besar untuk menjaga adik-adiknya, beliau akan mengantar istrinya. Menggunakan sepeda motor pak Ahmad memboncengkan istrinya pergi ke klinik bersalin. Di tengah perjalanan kadang istrinya merasakan kontraksi yang kencang, sehingga meminta untuk memperlambat laju motornya. Tidak henti-henti istrinya diingatkan untuk selalu berzikir, terutama beristighfar sepanjang perjalanan. Alhamdulillah setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tigapuluh menit mereka sampai di klinik yang dituju.

Setelah melakukan pendaftaran dan pemeriksaan oleh bidan, istri pak Ahmad ditempatkan di sebuah kamar dahulu, karena baru pembukaan empat. Beliau menemani istrinya dan teringat ketika waktu pendaftaran.

“Melahirkan anak yang ke berapa ibu?” tanya petugas pendaftaran waktu itu, setelah menanyakan data istrinya.

“Kedelapan mbak” jawab istrinya.

“Benar, yang kedelapan?” tanya petugas dengan heran dan setengah tidak percaya.

“Insya Allah benar mbak” jawabnya istrinya.

“Tidak ikut KB apa?” tanya petugas

“Insya Allah ikut keluarga besar mbak” celetuk pak Ahmad sambil tersenyum

“Maaf mbak hanya bercanda lho, mohon doanya untuk istri saya agar diberi kelancaran” sambung pak Ahmad seakan untuk mengalihkan pembicaraan tersebut.

“Ada riwayat kelainan ketika melahirkan ibu?” tanya petugas selanjutnya.

“Alhamdulillah tidak mbak, semuanya lancar dan normal” jawab istri pak Ahmad.

“Syukurlah, semoga yang kedelapan ini lancar dan normal juga” imbuh petugas

“Aamiin” ucap istri pak Ahmad

Itulah percakapan mereka bertiga ketika di pendaftaran. Beliau memaklumi keheranan petugas tentang istrinya akan melahirkan anak yang kedelapan. Menjadi tidak lazim di masa sekarang punya jumlah anak banyak,  ada beberapa pertimbangan yang mempangaruhi pandangan seperti itu. Gimana nanti biaya untuk menyekolahkan, gimana merawatnya, repotlah, dan lain sebagainya akan muncul beberapa pertanyaan tentang punya anak banyak. Pak Ahmad seakan mencoba memahinya pendapat tersebut. Anak merupakan amanah dari Allah, kita harus yakin akan rezeki yang diberikan oleh Allah. Komitmen suami istri juga merupakan kunci yang tidak kalah penting dalam membangun rumah tangga, ingin punya anak banyak harus ada komunikasi yang baik antar suami dan istri.

Menjelang waktu asar, pak Ahmad pamit istri untuk pulang sebentar mengurusi anak-anak di rumah dulu. Melewati tempat pendaftaran pak Ahmad ditanya oleh seorang ibu setengah baya, ternyata beliau seorang bidan.

“Bapak mau ke mana?” tanya ibu tersebut

“Pulang dulu ibu, ngurusin anak-anak yang di rumah” jawab pak Ahmad

“Bapak ini gimana, istri mau melahirkan malah ditinggal pulang!” sahut ibu tersebut.

“Alhamdulillah sudah biasa, ibu” jawab pak Ahmad dengan santainya

“Tidak bisa, bapak harus tanggung jawab, harus dampingin istri!!” seru ibunya. Mendengar hal tersebut pak Ahmad kaget dan heran, karena selama proses kelahiran ketujuh anaknya tidak pernah sama sekali mendampingi isterinya. Baru kali ini beliau disuruh harus mendampingi isterinya selama proses persalinan.

“Ya ibu, insya Allah saya akan mendampingi isteri” jawab pak Ahmad, berprasangka baik saja, pasti ada hikmahnya, pikir pak Ahmad.

“Ya mbok begitu, jangan enaknya saja yang dimau” sahut ibunya seakan tidak terima bila pak Ahmad pergi.

“Ya ibu ...” jawab pak Ahmad lagi.

Di ruang persalinan, ketika pak Ahmad masuk ternyata sudah ada istrinya berbaring di ranjang persalinan dan ada tiga orang bidan sedang melalukan persiapan proses persalinan. Istrinya agak kaget dengan kedatangannya di ruang ini.

“Abi tidak jadi pulang?” tanya istrinya dengan heran

“Abi mau dampingi umi dulu” sahut pak Ahmad pelan

Setelah itu, ibu bidan yang berbincang dengan pak Ahmad di pendaftaran masuk ruangan dan memberi isyarat agar proses persalinan dimulai. Persalinan istri beliau kali ini ditanganin oleh empat bidan. Kelahiran anak ketiga dan seterusnya harusnya ditangani oleh dokter kebidanan. Ibu bidan ini memberi aba kepada istri pak Ahmad dalam pengaturan napas selama proses persalinan. Beliau berada di dekat kepala istrinya sambil memegang tangan istrinya dan sesekali mengusap keringat di kepalanya. Alhamdulillah ngedenan yang ketiga keluarlah bayi yang mungil dan setelah itu terdengan suara tangisnya. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipa beliau, kalimat tahmid dan takbir tak henti-hentinya keluar dari bibirnya melihat peristiwa yang baru disaksikannya. Rasa bahagia dan haru atas kelahiran anaknya yang kedelapan serta melihat perjuangan istrinya dalam proses persalinan ini. Pantaslah kedudukan seorang ibu begitu mulia di sisi Allah, seperti hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya : Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,”Hawai Rasulullah, kepada siapakah aku berbakti pertama kali?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ibumu!’. Kemudian orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah menjawab. “Ibumu!’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’. Orang tertebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘Kemudian ayahmu’.

Setelah pasca persalinan selesai dan bayinya ditaruh bidan di samping istri, pak Ahmad pamit pulang untuk mengursi anak-anak dulu sembari mengabarkan kepada mereka tentang kelahiran adiknya. Merupakan kebahagian atas kelahiran putrinya dan suatu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dalam mendampingi istrinya dalam proses persalinan tersebut. Semoga pak Ahmad dapat mengambil hikmahnya dan keluarganya menjadi keluarga  yang bahagia dan harmonis.

Share:

Waktu Sholat

https://tafsirweb.com/jadwal-sholat

Total Tayangan Halaman

Unggahan Baru